Alhamdulillah, pada tanggal 17 januari 2015 telah lahir bayi munggil kami dengan berat 3 kg dan panjang 48 cm. Sebelum baby lahir ke dunia kami telah mempersiapkan nama yang cantik yaitu ‘afifah yuri haura’.

Yang artinya afifah=bermartabat/harga diri.

Yuri = singkatan nama kami berdua dan kalo bahasa jepang yuri itu artinya bunga J

Haura = wanita cantik berkulit putih

Ya, nama adalah do’a semoga menjadi penyejuk jiwa, Qurrota’ayyun,kebanggaan bangsa dan agama.

Btw, seperti judul saya ingin menceritakan tentang proses persalinanku yang cesar.

Sedih rasanya jika ditanya orang kenapa cesar, ya akupun sebenarnya tidak mau tapi karena kondisi dan minimnya informasi jadi semua berlangsung dengan “cepat”.

Tepat pada 16 januari malam saya sudah merasa sakit perut,pinggang dan pegal di kaki. Mengajak suami yang baru pulang bekerja, saat di periksa di rs katanya sudah bukaan dua dan ternyata disuruh tinggal di rumah sakit. Besok harinya mulai pukul 7 pagi saya diinfus untuk di induksi agar segera melahirkan tapi alhasil mules terus bertambah tapi diperiksa masih terus bukaan dua. Hufft tidak ada kemajuan, saya dan suami tetep kekeh untuk lahiran normal, dia selalu berada di samping saya. Tapi apa daya saat jam menunjukan jam 2 siang saya tidak tahan lagi ditambah lagi ditakut-takuti bidan, serasa tidak ada tenaga lagi untuk melahirkan. Alhasil saya menagis,maaf beribu kali maaf, saya tidak tahan. Hingga pangeranku bilang “kakak tidak memaksa,akan ikut saran dokter, kalo operasi jalan terbaik yasudah lakukan”.

Pukul 3 sore saya masuk ruang operasi, ruangan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Takut, cemas semua bercampur sudah. Saya hanya bisa memasrahkan diri kepada Allah swt. Alhamdulillah, 3.26 baby yuri hadir ke dunia🙂.Tapi dokter tetap melanjutkan operasi kista,yang menempel pada endometrium. Ya, mungkin ini salah satu hikmah saya dioperasi, tapi melahirkan secara cesar bukan kehendak awal saya.

Ya , konsekuensi dari lahiran ini adalah dana yang cukup besar dan mungkin penyembuhannya berbeda dengan lahiran normal. Tapi , saya tetap bersyukur kami tidak mengeluarkan biaya operasi karena adanya asuransi perusahaan.

Saya harus banyak belajar, semoga anak kedua dapat lahiran normal. Intinya sebelum lahiran sepertinya harus banyak bertanya dan belajar pengalaman.

Tapi satu pesan saya :

“kondisi tubuh masing-masing wanita itu berbeda, semua tidak bisa dianggap sama. Hargai setiap keputusan dan selalu ambil hikmah dari setiap peristiwa”

SEMOGA yuri menjadi anak yg sholeha,cerdas dan cantik. aamiin