hujan baru selesai berhent,i lalu
sore itu sengaja mengejar bus TM menuju pusda
selain ada pertemuan, alasanku bertambah kuat
tak lain alasannya karena saya semangat mau nanya “bibit cabe” disana
ingin memberikan itu pada anak-anak disekolah

agar mereka dapat bercocok tanam di halaman  sekolah

ya, di depan pusda itu kan ada orang yang jual tanaman fikirku

ketika sampai kenapa aku bersemangat sekali ya,

itu mungkin karena baru sekali, sering kali hanya numpang lewat saja

dengan sedikit terengah-engah aku masuk mencari orang yang jaga disana
*kikuk, tolek kiri kanan gak ada orang

“kemana ya yang jaga, tempatnya bagus dan tanaman yang rapi tersusun”

tiba-tiba lelaki berkaos putih muncul  *jreng2
“nyari apa dek”

dengan semangat dan lantang aku jawab  :D

“pak, jual bibit cabe?”

lalu,.

ekspresi bapak itu mulai berubah,. hmm,. “bibit cabe?”

“iya pak, bibit cabe ada kan pak?”  *pede

tetapi keyakinanku mulai luntur dan ragu

ketika melihat sekeliling itu penuh dengan tanaman bunga

dengan mengerutkan dahi si bapak bilang ;
“keringkan aja biji cabenya dek lalu ditanam”

lalu, dengan lugunya kujawab “jadi dsini gak ada ya pak, tanaman bunga semua?”

sambil senyum bapaknya jawab “iya”

“yaudah pak, makasih :D”

diperjalanan menuju tempat pertemuan, aku berfikir keras
“mana ada orang jual bibit cabe, dimana letak untungnya kalo itu dijual, toh mudah menanamnya”
“ini aku yang sok tau, kelewat pinter atau memang cerdasnya telat”

hemmm, sekali-sekali menertawakan diri sendiri itu perlu,.

*tutup muka,. semoga bapaknya gak inget kalo pernah ditanya “bibit cabe”

la la la  *ignore