TAK TERASA

Amanah kelembagaan saya sudah selesai. Dan kini saya masih harus belajar tentang banyak hal. Sungguh, betapa kehidupan pasca kampus perlu persiapan yang matang. Medan jihad pasca kampus tentu lebih berat dan menantang.

Kadang saya merasa bukan apa-apa ketika berhadapan dengan seorang aktivis yang TOP BGT; jam terbang tinggi, binaan banyak, prestasi akademis oke, pintar berorasi, jaringan luas, keluarga terkondisi, dst. Sedangkan saya? Malang nian bila hanya penuh kekurangan demi kekurangan tanpa satu pun kelebihan. Jangan-jangan saya tidak bersyukur. Jangan-jangan saya tidak mau berusaha?

Setiap orang itu unik. Begitu pun aktivis dakwah kampus. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Meskipun tawadzun tidak mudah dan kita punya banyak keterbatasan namun ALLAH telah memberi kemampuan kita untuk berusaha. Ketika di hadapkan pada sebuah kegagalan, sudah bukannya lagi seorang aktivis berputus asa. Putus Asa? Nggak lagi deh..

 

BERTAHANLAH, SAHABAT… PERJUANGAN MASIH PANJANG

Perjumpaan selalu diikuti dengan perpisahan. Begitulah kebersamaan yang kita lalui dengan sahabat perjuangan di kampus. Semua akan menjadi kenangan. Namun semua tak berakhir di sini. Amanah sebagai seorang aktivis akan selalu melekat. Ingatlah bahwa kita telah berikrar untuk menjadi da’i sebelum menjadi yang lainnya; nahnu du’at qobla kulli syai’in! Meskipun raga tak akan lagi melangkah beriringan tapi jiwa kita tak pernah berpisah, selalu menyatu dalam cinta untuk menyeru pada-NYA. Lantunkanlah do’a rabithah sebagai pengikat hati-hati kita. Dan jangan lupa berdoa agar kelak ALLAH mengumpulkan kita kembali di tempat yang lebih baik –jannah-NYA-.

Selamat berjuang! ALLAHU AKBAR!

Surakarta, 26 November 2007:9.08

Ukhtiikum fillah –hamba ALLAH yang dhaif

Fathimatul Azizah

*menemukan tulisan ini di salah satu folder netbook, ending  tulisannya mbak ini cukup mewakili ^_^