Bagi saya posisi itu sangatlah keren, mahasiswa kampus akan mengenalmu apalagi disertai dengan ke-eksis-an diri tetapi bukan over narsis. BEM itu diciptakan, santun, berwibawa, tegas , ramah dll, apalagi kalo bisa duduk tataran senat akan lebih muktakhir seperti di salah satu universitas terkenal. Ketua lembaga dakwah lebih keren lagi, eksiskanlah dirimu dengan kebaikan, jadilah komando satu. Ingat lagu zaman SMA kan? Udah cakep udah soleh presatasinya okeee. Siapa yang tak akan suka dengan dakwah jika engkau ada seperti itu.

Masalah yang akan timbul dari ke-eksisan pun akan banyak timbul, salah satunya perasaan sombong (ujub), banyaknya idola maupun ujian hati. Maka luruskan niat kuatkanlah ruhiyah. Seorang ustad pernah bertaujih di depan para calon pemimpin jika menjadi pemimpin juga mungkin akan ada idola dari lawan jenis maka  “biarlah mereka banyak menyukaimu, mereka otomatis juga akan menyukai kebaikanmu, nantinya juga hanya cuma satu yang akan jadi istri atau suami, berhentilah mencemaskan hal itu terlalu kerdil memikirkan itu”

Kembali lagi tentang seorang pemimpin, jangan membuat diri seolah-olah kerdil, siapa lagi kalo bukan kalian mahasiswa, siapa lagi kalo bukan aktivis dakwah kampus. Kenapa pemimpin seolah tidak menjadi suatu nilai lebih bagi diri. Saya teringat perkataan seseorang, “aktivis kampuslah yang akan menjadi jantungnya daerah maupun suatu wilayah kelak”. Memaknai kalimat itu mari kita berfikir, ini Indonesia dan Indonesia luas. Kampus nasional yang terkenal boleh menargetkan dirinya menjadi pemimpin nasional, sedangkan kampus regional pun para aktivisnya setidaknya akan menjadi leader-leader daerah bukan?? Ya, itulah tujuan. Bukan untuk haus kekuasaan tetapi semata menjalankan titah langit sebagai penjaga (khalifah) bumi dari kerusakan.

Jabatan presiden dan wakil presiden, gubernur, bupati, camat, dan sebagainya sudah selayaknya diambil oleh orang yang memiliki komitmen keislaman dan keumatan. Apabila jabatan tersebut berada ditangan orang yang menjadikan islam sebagai rujukan niscaya nilai dakwah akan eksis di wilayah yang amat strategis (Cahyadi Takariawan)

Saya yakin suatu saat terciptannya inkubator khusus yaitu tempat lahirnya calon pemimpin-pemimpin nantinya, inkubator ini hanya menghangatkan orang-orang yang bersedia dan bertekad menjadi pemimpin dan juga berkomitmen tidak mengenyampingkan akademik. Karena inkubator ini diciptakan khusus dan tak perlu waktu lama. Tak perlu lagi berlama-lama berdebat maupun merusak sejarah untuk mencari pemimpin karena pemimpin akan lahir dari inkubator ini. Tumbuhkan semangatmu untuk jadi pemimpin sesungguhnya kelak diluar sana dan bergabunglah di inkubator terkini (kampus), semoga kalian lulus dan menemukan inkubator itu.

Siap dipimpin maupun memimpin. Kita ibarat gerbong kereta, ketika engkau dipinta untuk jadi gerbong kepala engkau harus siap, begitupun jika engkau menjadi gerbong di paling akhir itu harus kau terima. Tapi, Bagaimanapun kita tetaplah gerbong yang sama, dalam barisan teratur dan rapi

(alfath)