Mendidik anak merupakan perkara yang mulia tapi gampang-gampang susah dilakukan, karena di satu sisi, setiap orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh dengan akhlak dan tingkah laku terpuji, tapi di sisi lain, mayoritas orang tua terlalu dikuasai rasa tidak tega untuk tidak menuruti semua keinginan sang anak, sampai pun dalam hal-hal yang akan merusak pembinaan akhlaknya. Anak adalah perhiasan dunia katanya, anak juga mungkin sebuah ujian untuk para orang tua seperti firman Allah swt.

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (QS. at-Taghabun: 14).

Akhir-akhir mulai berfikir tentang pendidikan anak, mungkin baru terasa sekali ketika sudah berada di lapangan dunia pendidikan, bersentuhan langsung dengan anak, kegiatan mengajar dan belajar dari mereka. Mencoba mengambil nasihat dari perjalanan hidup ini, berfikir dan belajar untuk menjadi lebih dewasa.

Membahas soal pendidikan anak, ternyata ini bukanlah hal yang mudah, setidaknya ini menurut pandanganku. Sepekan ini belajar ilmu kehidupan, bertemu dengan mereka anak-anak yang entah apa aku harus menyebut mereka, hati selalu bertanya ”persoalan apa yang dihadapi oleh anak ini?” dan dari mereka aku belajar memahami. Baiklah, mungkin sedikit membagi kisah tentang mereka :

Anak pertama, ia anak yang pintar nan lucu cantik pula tapi ia tidak dapat bersekolah di sekolah biasa karena sakit yang ia derita, dia sering step/kejang2 jika terlalu ditekan untuk belajar, suasana yang nyamanlah yang dapat mendukungnya. Kedua orang tuanya meninggalkan dia begitu saja, alhasil ia dititipkan pada bibinya dan sejak kecil katanya ia hanya diasuh oleh pembantu rumah tangga.

Anak kedua, dia ganteng bahkan seperti artis aku melihatnya tapi ia terlalu pendiam dan kaku. Terlihat seperti ada masalah diwajahnya, tebakkanku ia pasti bermasalah dengan keluarga/kedua orang tuannya, Walau sering kali ia diantar memakai mobil mewah tapi tak menjamin ia dapat mengurai senyum bahagia. Dalam hati, suatu saat aku ingin ngobrol dengannya.

Anak ketiga, mungkin bisa kusebut dia sedikit abnormal tapi diri ini sangat yakin bahwa ia dahulu pasti pernah normal, didukung juga kesaksian dari teman-temanku. Aku memang bukan psikolog tapi aku merasakan ia itu ada beban psikis dalam dirinya, ah entah apa mungkin sebuah trauma masa lalu. Padahal ibunya adalah seorang dokter, ayahnya pengusaha dan ia anak laki-laki satu-satunya. Tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan kedua orang tuanya, atau aku sering berfikir,”apa ini salah orang tuanya?”

Anak keempat, sempat kaget ketika tau kalo dia ini anak seorang dosen tapi dia tidak bisa sekolah di sekolah biasa alasannya katanya cuma satu yaitu “males”. Ngobrol bareng dia cukup asyik, ternyata darisana aku tau kalo dia ini hobi bongkar-bongkar mesin (otomotif), rambut sedikit gondrong, dan hobi adventure padahal usianya masih dibawah 15 tahun. Ayahnya sekarang jadi pengusaha meninggalkan dunia dosennya, jumlah mobilnya jangan ditanya. Dan baru aku tahu ayahnya ini juga akan jadi caleg DPRD nanti. Kutanya pada anak ini “cita-citanya mau jadi apa?” jawabnya “pengusaha buk”. Dan rencana terdekat yang ia ceritakan padaku adalah ia mau tour-ing bareng temannya naik motor. Bagaimana orang tua menghadapi anak yang seperti ini? Sabarkah? Aku kembali merenung apakah ini salah satu hasil didikkan orang tua yang salah?

Anak kelima, anak yang imut, lucu, periang, ekspresif itu kesan yang pertama aku tangkap darinya, “nama saya razan”, nama yang indah. Tapi apa yang kemudian terjadi, ulahnya itu dapat kusebut hiperaktif sampai orang tuanya pun bingung dibuatnya, tapi aku juga mungkin salah mengkatagorikannya. Berkelibat dalam hati, orang tuanya apakah terlalu memanjakannya ataukah memang ini sikap anak kecil? Maaf pengetahuanku memang masih minim tentang ini. Lagi lagi dan lagi aku bertanya “gimana sikap orang tua jika perkataanya pun sering tak di hiraukan oleh anak?”. Baru kudengar juga dari celoteh ibunya kalau ayahnya baru saja diangkat jadi GM sebuah hotel terkenal.

Itulah sedikit beberapa kisah tentang pendidikan, pengajaran dan Buat diriku yang ingin terus BELAJAR. Entahlah pelajaran ini sedikit banyak menyita fikiranku, menjadikannya sebuah titik perenungan “mungkin menjadi orang tua bukanlah tugas yang mudah”, “kasih sayang orang tua tak dapat dibeli dengan uang”. terkadang praktik itu tak semudah teori belaka kawan.

Sang maha pencipta memberikan pilihan-pilihan yang mana akan dijalani, bukan sebuah beban tapi layaknya seorang musafir di bumi yaitu butuh persiapan bekal. Jangan hanya sekedar keindahan yang dilihat dari satu sisi saja tapi lihatlah sebuah tanggung jawab dan kewajiban untuk menjadikannya bekal layak yang akan dibawa dan dilaporkan kelak.

Sebuah perenungan bersama bagi pendidik, tempat/madrasah pertama bagi anak-anaknya dan pemeran roda kehidupan menjadi seorang pemimpin (nakhoda). Semoga bukan sisi ketakutan berlebih tapi lebih untuk introspeksi. Ikutilah alur yang benar yang ditetapkan Rabb semesta alam, dan selalu bermunajah kepadaNya, tak ada yang lebih berkuasa dari KuasaNya.

Note : harta dunia yang berlimpah tak menjamin semuanya kan bahagia. Pintalah kebaikan pada diri dan generasi. Dunia dan akhirat pastinya.

true_alfath

14101990
Image