Kampus layaknya sebuah inkubator. Tempat merawat, menumbuhkan serta memberikan suhu kehangatan yang layak pagi para pembelajar. Lebih tepatnya seorang pembelajar yang menamai diri sebagai aktivis, aktivis menempatkan posisi diri tidak lebih penting dari kepentingan orang banyak, dalam dirinya dituntut untuk dapat memimpin. Teladan paling agung yang dicontoh ialah Rasulullah SAW, mereka dituntut untuk mengindentifikasi dan mengaktualisasikan diri seperti qudwah (teladan) tersebut. Mungkin itulah kenapa mereka disebut aktivis dakwah.

Proses  membentuk karakter kepribadian seorang aktivis mungkin dapat terjadi begitu cepat maupun lambat hanya saja tidak dipaksakan dan tergesa-gesa. Hakikatnya Jalan dakwah menginginkan prbadi-pribadi yang matang, sehingga tak akan mengeluh karena beratnya perjalanan, apalagi mundur ke belakang hanya karena menjumpai cobaan. Islam sebagai din yang syamil (sempurna) memiliki karakter kepribadian penganutnya yang tercermin dalam doktrin akidah, syariah maupun akhlak, inilah patokan karakter mendasar dari kehidupan muslim. Dari beberapa karakter tersebut islam juga menyinggung tentang kepemimpinan, pemimpin mungkin dapat diartikan secara luas maupun secara sempit.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.(QS. 3:110)

Dikaitkan lagi, kepemimpinan indentik diawali oleh tokoh pemuda, dan pemuda intelektual dapat kita temui di kampus. Itulah kenapa saya menyebutnya kampus sebagai inkubator kepemimpinan, karena jiwa-jiwa pemimpin dapat ditemukan bahkan dibentuk di kampus. Dahulu saya tidak pernah menyadari bahwa itu merupakan anugerah potensial yang diberikan oleh orang tua dan pastinya kesempatan dari Allah swt, kemudian bertemu juga dengan dunia dakwah kampus yang menjadi sumber penghangat di inkubator tersebut.

Menjadi pemimpin tidaklah mudah katanya, tetapi kenapa tidak mau mencoba bahkan menghilang. Ketahuilah bahwa ketika kita dapat memecahkan masalah maka  akan membuat kita bertambah dewasa. Lalu alasan lain adalah tidak memiliki jiwa sebagai pemimpin. Oke, mungkin itu alasan yang cukup untuk di-“logis”kan jika melihat dari karekteristik diri masing-masing, menurut saya juga paling tidak ada karakter korelis untuk seorang pemimpin. Tetapi itu bukanlah alasan mutlak untuk tidak jadi pemimpin.

Tidak memiliki nilai lebihkah menjadi seorang ketua umum Lembaga Dakwah? Seorang ketua BEM? Merasa Menjadi pesakitan disana bahkan ada yang merasa menjadi tumbal, apakah itu pemikiran sebagai aktivis dakwah? Seharusnya tidak akan pernah ada anggapan itu.

Bagi saya posisi itu sangatlah keren, mahasiswa kampus akan mengenalmu apalagi disertai dengan ke-eksis-an diri tetapi bukan over narsis. BEM itu diciptakan, santun, berwibawa, tegas , ramah dll, apalagi kalo bisa duduk tataran senat akan lebih muktakhir seperti di salah satu universitas terkenal. Ketua lembaga dakwah lebih keren lagi, eksiskanlah dirimu dengan kebaikan, jadilah komando satu. Ingat lagu zaman SMA kan? Udah cakep udah soleh presatasinya okeee. Siapa yang tak akan suka dengan dakwah jika engkau ada seperti itu.

 

(bersambung..)

by. InShare_alfath