Kali ini akan sedikit berceloteh tentang dunia PK (Paska Kampus), tak terasa sudah satu tahun di wisuda, maksudnya dari tahun 2012 ke 2013. *up

Merasakan dunia di luar rutinitas kuliah ataupun bimbingan itu sesuatu sekali, imunitas ekstra pun sangat diperlukan.

Paska kampus apa hubungannya dengan eksisitensi jilbab?

fotoku

Seorang muslimah dan aktivis kampus yang dibesarkan di suhu kampus yang hangat, mahasiswi  berjilbab sangat sering ditemui, begitu pula yang disebut jilbaber dengan jilbab yang subhanallah panjang dan rapi. Kampus memang sebagai  inkubator untuk merawat kami, dan yang akan saya soroti sekarang mengenai eksistensi jilbab itu sendiri.

Tapi apa yang terjadi dengan jilbabnya setelah keluar dari inkubator (red: paska kampus)?

Tidak ada yang bisa menjamin semuanya, termasuk diri saya yang dho’if ini. Hanya mengamati dan belajar. Memang tak ada batasan  atau ukuran  khusus panjang jilbab harus berapa centi atau berapa meter, catatan pentingnya yaitu hanyalah syar’i. tapi masalahnya, syar’I itu juga yang mendefinisikannya beragam.

Masuk ke poin, paska kampus memang tak semudah yang dibayangkan. Terasa sekali suhu berbeda ketika masih di kampus, berinteraksi dengan masyarakat yang beragam. Lagi-lagi kita cukup berbeda dengan identitas jilbab yang kita kenakan,

ada yang bilang  ‘kepanjangan’, *oke,no problem yang penting gue nyaman

ikut aliran apa dek?  *aliran sungai nil pak :p, hebat kan (jawab dalem hati)

jadi yang berbeda (red: special) itu susah juga ya,.

Belum lagi siswa itu ada aja yang suka Tanya-tanya,

miss, pakek jilbabnya dua lapis ya? Dak panas apo miss?

itu tangannya pakek apaan?

Semua atribut muslimah itu sekuat tenaga harus tetap terpakai baik yah, jilbab anggun, manset, kaos kaki because  ‘we are muslimah’. #fight

Berbeda dengan cowok (ikhwan) yang sangat fleksibel kalo masalah penampilan, kalo jenggotan dianggap ekstremis bisa aja dipotong karena itu gak masalah, pakai kaos oblong juga gak masalah, pakek celana jeans juga gak masalah, tampil gaul maupun elegan juga gak masalah.

Nah kalo cewek (akhwat), jika jilbab lebar dan panjang dibilang ekstremis emang mesti dipendekkan apa? Nah looh. *aurat dan aturannya gimana

Kenapa fenomena “kenaikan”  jilbab banyak terjadi di kalangan muslimah mantan aktivis kampus ?? *hadeeuuuh bahasanya kacau sekali. Jawabannya tentunya akan sangat banyak dan beragam. Oke, saya tak akan membahas tentang itu.

Yang akan saya bahas tentang beberapa TIPS dari berbagai sumber yang pernah saya dengar agar tetap istiqomah dengan jilbab syar’i nan anggun seperti masa di kampus :

  1. Back to niat

Sudah pada tahu niat pake jilbab buat apaan? Luruskan niat untuk Allah swt

  1. Berada di lingkungan yang kondusif dan nyaman.

Tetaplah berada pada lingkungan yang mendukung agar tetap istiqomah. Biarin aja diejek selalu memilih zona aman toh kita memang harus memilih itu. Terutama saya merasa lingkungan itu sangat mempengaruhi diri ini.

  1. Berkumpul dengan yang solehah

Kalo yang ini pasti, berada pada circle nan indah. Berusaha untuk saling menjaga. Mengingatkan apabila tersalah

  1. Pasang foto zaman kuliah di depan cermin

Biar inget jilbab kita waktu di kampus seperti itu loh, sebagai pengingat aja. Bercermin  sambil baca do’a ” Allaahumma kamaa hassanta kholqii fa hassin khuluqii”.

  1. Punya amanah

Ada seorang ukhti yang bilang pada saya “ sebenarnya amanah itulah yang akan menjaga kita agar tetap berjalan baik”. Sewaktu dengar kata-kata itu dulu bikin saya makin “jlebb”

  1. Punya mad’u (objek dakwah) maupun binaan

Yakin gak kalo mereka bisa jaga kita? yaps. Kita mengajak mereka jilbaban yang rapi otomatis kita sendiri bisa contohin kan. Komitmen diri dituntut untuk hal ini. Ayo cari mad’u.

  1. Nikah

Kaku  bahas ini, tapi waktu itu ada yang bilang gitu ke saya. Katanya biar istiqomah dengan jilbabnya nikah aja. Sampe sekarang juga saya masih mikir apa hubungannya,  sampe saya mengambil kesimpulan dari percakapan imaginasi gini  “ bun/yang/mi, jilbabnya kayaknya kependekan deh!”. Intinya ada orang yang mengingatkan. tapi berarti bukan nikah aja solusinya, nikah dengan orang soleh tepatnya.

  1. Berazzam

Nah ini yang paling penting, berazzam/bertekad untuk tetap istiqomah, selalu meminta petunjuk dari Allah swt. Ikhtiar dalam kondisi apapun, sampe ada seorang ukhti yang bilang  “dak akan kubiarkan satu centimeterpun ini mengalami kenaikan”. *sambil do’a. aamiin. Bahagia akan tekadnya itu, semoga menular kepada saya dan semua ukhti. makasih ya. *semoga si ukhti gak baca perkataannya yang ini. ^_^

Sekian pembahasan opini yang sudah panjang dikali lebar lalu menjadi luas. Semoga selalu memaafkan insan  yang  fakir, dhoif serta perlu banyak belajar.

Closing :  Intinya pakailah jilbabmu senyaman dirimu, dan ingatlah untuk siapa dirimu berjilbab, berniatlah untuk mulia di mata Allah swt.

Wallahu’alam

Afwan.

#CatatanTukDiriSendiri

“Hai Nabi,katakanlah kepada istri-istrimu,anak-anak perempuanmu,dan istri-istri kaum mukmin:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah di kenal,karena itu mereka tidak diganggu.Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “(Al-Ahzab:59)

Tafsir:
Allah Ta`ala menyuruh Rasulullah agar dia menyuruh wanita-wanita mukminin,terutama istri-istri dan anak-anak perempuan beliau karena keterpandangan mereka,agar mengulurkan jilbab keseluruh tubuh mereka.Sebab cara berpakaian demikian membedakan mereka dari kaum jahiliah dan budak-budak perempuan.Jilbab berarti selendang yang lebih lebar daripada kerudung.Demikianlah menurut Ibnu mas`ud,Ubaidah,Qatadah,dan sebagainya.Kalau sekarang,jilbab itu seperti kain panjang.Al-Jauhari berkata,”Jilbab ialah kain yang dapat di lipatkan.”

14 Februari 2013

Gerakan #AyoTutupAurat

celoteh “alfath”