Ada orang yang namanya tak begitu dikenal oleh penduduk bumi, tapi sangat diagungkan oleh penduduk langit. Ia beribadah dalam sunyi, ia mengabdi dalam sepi, ia bermanfaat tanpa perayaan dan pengakuan prestasi.

Ia menangis dalam dzikir di malam harinya, ia menebar manfaat seluas mungkin bagi kebaikan sesama, di siang hari, tanpa ada keinginan  untuk dikenal namanya. Hatinya bersih dari riya’, jiwanya suci dari ujub, niatnya tulus untuk menggapai cinta Tuhan. Ia dikenal sebagai manusia biasa  di hadapan sesama tetapi ia mulia di hadapan Tuhan

Ada orang yang saat di bumi tak ada yang mengenalnya, tapi penduduk langit menagungkannya. Mereka adalah lu’lu’il maknun, mutiara yang tersimpan. Mereka mulia tapi kemuliannya tersembunyi. Mereka saleh tapi kesalehannya tak tampak. Mereka beribadah dalam sunyi, mereka mengabdi dalam sepi, mereka berjuang tanpa pencitraan.

Mereka tak peduli apa penilaian sesama. Yang mereka  tahu Tuhan melihat perjuangannya. Mereka tak peduli beragam penghargaan yang kadang jadi biang kesombongan, mereka berjuang karena nuraninya memintanya untuk berjuang.

(berlian tersembunyi, Ahmad Rifa’I Rif’an)

(lamat-lamat kubaca kalimat demi kalimat ini, aku menjumpai wajah-wajah  mereka. Tak dapat lagi kutahan perasaan , mengalir membasahi ladang nan gersang ini. Inginku bertahanlah, karena disini bayangan kalian kan terus ada)

Salamku pada an-nafisah, ufairoh, kza, dan hudzaifah.