Maaf untuk menuliskan ini, kegelisahankah, entahlah apa namanya.

Untuk kesekian kali aku hanya bisa menghela nafas panjang.

Terasa sakit sekali kata-kata itu, begitu menusuk rasanya.

Tanpa ada ungkapan sebuah alasan.

Inilah aku  yang memiliki keterbatasan, aku bukanlah siapa-siapa, jangan pandang aku lebih tinggi atau lebih baik daripada kalian, aku mohon jangan seperti itu teman.

Itu akan menyakitkanku.

Andai kalian tau betapa takutnya aku ketika pulang malam, seorang wanita di bis tak ada mahram disana, tatapan mata lelaki yang menakutkan, hanya satu modal keyakinanku Allah swt selalu ada untuk melindungiku,.

Belum lagi, amanah sebagai seorang anak. Aku tinggal bersama keluarga, iya bersama keluargaku aku tegaskan, kalimat yang memilukan bagiku “ayu pegi terus, kapan lagi libur itu di rumah”.Mereka membutuhkanku, walau aku juga tau konsekuensinya.

Aku tidak meminta semuanya yang ada disini. Jangan anggap aku lebih baik dari kalian.

Kumohon jangan sakiti dengan kata2 seperti itu teman.

Maaf, berikan kata maaf untuk orang dhoif ini, belum bisa bekerja lebih maksimal.

 

Bekerjalah, biarkan Allah swt, rasul, dan orang beriman yang akan melihat. Itu saja.

Wakafabillahi syahidah.