sebenernya tidak terlalu ingin menuliskan ini tapi karena ini adalah ilmu dan tugas pencari ilmu untuk menyampaikan.

berlatar belakang atas kejadian ketika ke masjid yang membuat sedikit bikin tertekan #lebay.he

awalnya berkunjung ke masjid untuk  mendengar tausiah dan mencari ilmu disana, bersama teman yang senasib karena tidak bisa sholat.

ketika masuk waktu sholat, semua orang pada sholat dan sisanya menyingkir ke belakang karena  “wanita time”

setelah sholat, kamu tau tiba2 apa yang terjadi, ada seorang lelaki dengan jenggot tebal berpakaian hampir gamis tanggung yang menghampiri dan berkata : ” kenapa kalian tidak sholat??  lagi halangan ya?  keluar!!! dak boleh di dalam masjid”

# gleekkkkk  (tercengang)

kamu tau apa yang dirasakan “wanita” ?? entahlah menerka2, diam= silence is gold dech.
memang harus perang pendapat disini. nggak juga kan.

berikut penjelasan HUKUM WANITA HAID MEMASUKI MASJID dari beberapa referensi :

————————————————————————————————

Wanita haid juga butuh akan ibadah. Begitu pula ia butuh akan ilmu. Bagaimanakah jika ia mengalami haid sedangkan butuh akan siraman rohani atau pelajaran ilmu syar’i yang cuma ditemukan di masjid? Apakah ia boleh memasuki masjid dalam keadaan haid?

Syaikh Kholid Mushlih –hafizhohullah– ditanya, “Apakah boleh wanita haid menghadiri majelis Al Qur’an (di masjid)?”

Jawab beliau, “Wanita haidh boleh saja masuk masjid jika ada hajat, inilah pendapat yang lebih tepat. Karena terdapat dalam kitab shahih (yaitu Shahih Muslim) bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada ‘Aisyah, “Berikan padaku sajadah kecil di masjid.” Lalu ‘Aisyah berkata, “Saya sedang  haid.” Lantas Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya haidmu itu bukan karena sebabmu.”[1] Hal ini menunjukkan bahwa boleh saja bagi wanita haid untuk memasuki masjid jika: (1) ada hajat dan (2) tidak sampai mengotori masjid. Demikian dua syarat yang mesti dipenuhi bagi wanita haid yang ingin masuk masjid.

Adapun hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan,

لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ

Tidak dihalalkan masjid bagi wanita haid dan orang yang junub.[2] Ini hadits yang tidak shahih. Para ulama hadits menyatakan demikian bahwa hadits tersebut tidaklah shahih. Sehingga hadits tersebut tidak bisa jadi pendukung untuk melarang wanita haid masuk masjid.

Adapun jika ada yang mengqiyaskan wanita haid dengan orang junub, ini jelas qiyas (analogi) yang tidak memiliki kesamaan. Karena junub boleh masuk masjid jika dia berwudhu untuk memperingan junubnya, ini yang pertama. Yang kedua, junub adalah hadats karena pilihannya yang sendiri dan ia mungkin saja menghilangkan hadats tersebut. Hal ini berbeda dengan wanita haid. Wanita yang mengalami haid bukanlah atas pilihannya sendiri. Jika wanita haid mandi sekali pun selama darahnya masih mengalir, itu tidak bisa menghentikan darah haidnya. Intinya, tidak bisa disamakan antara wanita haid dan orang yang junub sehingga qiyasnya nantinya adalah qiyas yang jelas berbeda (qiyas ma’al faariq).”

Syaikh Kholid Mushlih: murid senior sekaligus menantu Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 21 Jumadats Tsaniyah 1433 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

lalu berdasarkan dalil :

Ulama berselisih pendapat tentang hukum wanita haid yang masuk masjid. Ada yang memperbolehkan dan ada yang melarang. Pendapat yang mendekati kebenaran adalah pendapat yang memperbolehkan wanita haid masuk masjid. Di antara dalilnya adalah:

Dalil pertama: Disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari, bahwa di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada seorang wanita berkulit hitam yang tinggal di masjid. Sementara, tidak terdapat keterangan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan wanita ini untuk meninggalkan masjid ketika masa haidnya tiba.

Dalil kedua: Ketika melaksanakan haji, Aisyah mengalami haid. Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan beliau untuk melakukan kegiatan apa pun, sebagaimana yang dilakukan jamaah hajiselain tawaf di Ka’bah. Sisi pengambilan dalil: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya melarang Aisyah untuk tawaf di Ka’bah dan tidak melarang Aisyah untuk masuk masjid. Riwayat ini disebutkan dalam Shahih Bukhari.

Dalil ketiga: Disebutkan dalam Sunan Sa’id bin Manshur, dengan sanad yang sahih, bahwa seorang tabi’in, Atha bin Yasar, berkata, “Saya melihat beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk-duduk di masjid, sementara ada di antara mereka yang junub. Namun, sebelumnya, mereka berwudhu.” Sisi pemahaman dalil: Ulama meng-qiyas-kan (qiyas:analogi) bahwa status junub sama dengan status haid; sama-sama hadats besar.

Dalil keempat: Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepadanya, “Ambilkan sajadah untukku di masjid!” Aisyah mengatakan, “Saya sedang haid.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya, haidmu tidak berada di tanganmu.” (HR. Muslim). Sebagian ulama menjadikan hadis ini sebagai dalil tentang bolehnya wanita haid masuk masjid.

Dalil kelima: Tidak terdapat larangan tegas agar wanita haid tidak masuk masjid. Dalil yang dijadikan alasan untuk melarang wanita masuk masjid tidak lepas dari dua keadaan:
1. Tidak tegas menunjukkan larangan tersebut.
2. Sanadnya lemah, sehingga tidak bisa dijadikan dalil.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Baca selengkapnya: http://www.konsultasisyariah.com/terlarangkah-bagi-wanita-haid-untuk-memasuki-masjid/#ixzz22P50LUoO

————————————————————————————————-

nah, itulah beberapa penjelasan tentang hukumnya. Jika menurut pribadi saya sendiri, selama wanita itu yakin untuk tidak akan mengotori masjid itu sendiri insyaAllah tidak mengapa masuk ke masjid dengan tujuan kebaikan , toh zaman dahulu dan zaman sekarang sudah beda penanganan tentang darah haid.
agama itu tidak menyulitkan tetapi jangan pula dimudah2kan.

sedikit sedih dengan kejadian pengusiran tersebut, semoga Allah swt memaafkan semua pihak. aamiin

hmm, seketika ada yang nyeletuk  ” jangan saklek”
saya jadi kepikiran ” inilah fikroh (pemikiran)”, semoga nantinya bertemu orang yang se-fikroh aja biar nggak ribet.

tapi dipikir lagi inilah indahnya keberagaman dapat mengingatkan, berjiwa besar, sabar, tenggang rasa. Bahan untuk lebih dewasa menyikapi #sok.dewasa ^_^

*karena kita manusia adalah insan yang dhoif

oleh karna itu  lebih banyak belajar . tug tug tug #ketok2 jidat ni.

kritik dan saran dapat dikirimkan langsung lewat do’a ya, supaya menjadi lebih baik lagi, lebih mencari ilmu lagi.

sampai jumpa kakak, jangan marah2 + usir2 lagi ya. #kapok dah. he