Memasuki fase alam bawah sadar,.

Setiap perjalanan hidup kita pasti diisi oleh orang sekeliling  karena dari merekalah kita mengenal canda, tawa, haru, sedih dan berbagai rasa itu.

Menghimpun mozaik-mozaik hikmah yang berserakan, ingin menjadikan itu proses pendewasaan bagi diri. Tak ingin selalu menjadi lemah.

Darinya aku belajar rendah hati, tak pernah kalimat congkak keluar dari mulutnya.

Pernah suatu ketika mendengar taujih ustadz di masjid, “kalian harus melakukannya dengan mastato’tu (semampunya)”, lalu aku bertanya padanya yang berada disebelahku “semampunya, berarti jika tidak bisa yasudah tidak usah dikerjakan, begitu? ” dan ia menjawab sambil tersenyum “ iya,. Tapi semampunya itu begini :

= ibaratnya kalau kita disuruh berlari mengelilingi suatu lapangan berulang2, maka mastato’tu itu sampai kita tersungkur dan tidak bisa berlari lagi. Bukan baru merasa lelah maka kita tidak berlari lagi, itu bukan makna mastato’tu =

Kalimat ini bener-bener seperti tamparan, nasihat berharga bagiku. Bagaimana menilai arti sebuah kemampuan itu, merubah frame otakku.

Dari pertemuan2anku dengannya ternyata aku tau bahwa dia adalah orang yang sangat sulit menangis, sedangkan aku sebaliknya. Dia bercerita bahwa dia tidak pernah menangis di depan orang lain, dimarahi bagaimanapun airmatanya tak akan keluar. Ya, aku tau dia adalah orang yang tegar, aku malu padanya karena seringkali kepergok meneteskan airmata. Itulah kenapa ia sering mengejekku karena lumayan  lemah ini apalagi kalo lagi sensitive.. tapi satu tekadku, tak akan menagis di hadapannya lagi karena aku malu tidak setegar dirinya .

Terkadang aku kasihan melihatnya, mungkin betapa militan jiwanya, tapi tak sekokoh tubuhnya. Betapa malunya diri ini apabila harus berkeluh kesah pada orang yang bebannya lebih berat dari kita.

pernah terlintas dalam fikiranku untuk menyerah, meninggalkan ini dan itu.tapi kembali lagi ke niat awal karena Yakin pada janjinNya dan salah satunya apakah “aku tega” melihatnya.

Sedikit penyadaran buat diri sendiri dan juga muslimah (red:akhwat) :

–          Apakah kau tega memberikan tanggung jawabmu kepada saudarimu yang kau tau dia telah memiliki beban dipundaknya

–          Tidak malukah kita memarahi saudari kita karena tidak memiliki kordinasi yang baik sedangkan begitu banyak urusan yang mesti ia kerjakan bukan hanya mengurusi urusanmu

–          Begitu banyak kekecewaan yang kita dilontarkan padanya sedangkan kepada siapa ia mengeluarkan kekecewaannya ??

–          Sampai kapan kita harus dimengerti sementara kita tidak mau mengerti keadaannya

–          Apabila ia bertukar posisi dengan kita, apakah sanggup??

Diluar sana, banyak sekali muslimah membanggakan kehebatannya, hebat dalam kata2nya, hebat dalam orasi-orasinya, hebat dengan kata-kata manis godaannya, jurus2 dunia mayanya, berteori tak beraplikasi, bangga akan tidak datangnnya setiap taujih atau bersibuk teleponan, smsan, bahkan  social meia jadi ajang cari jodoh.. hoom

Sedangkan disana, ada muslimah yang mengerjakan tanggung jawab yang ditinggalkan oleh saudari-saudarinya, ia selalu berhusnudzhon pada saudarinya itu, memberikan kelapangan hati dan memaklumi. Ia bingung mau meminta bantuan siapa menyelesaikan tugas2 menumpuk itu.

Siapa?, siapa saja dijalan ini? Apakah hanya untuk segelintir orang?

Hatiku bergejolak, aku takut terperosok dan dimana aku sekarang?

Tolong untuk saling menjaga.

 

Dan,.

Tiba2 aku terbangun dari alam bawah sadar.

Kembali ke perahu, benahi tujuan.

 

 

The dark : 090612

Mozaik ”fath”