Sahabat, sadar tidak bahwa menjadi muslimah itu sebenarnya teramat sangat spesial?! Seperti kata iklan, ‘karena kau begitu berharga’. Lihat saja, diantara semua perempuan, hanya muslimah saja yang diminta langsung oleh Allah untuk mengenakan mahkota Jilbab (masih ingatkan ayatnya?!).
Dan faktanya pula, hampir seluruh penduduk alam raya meyakini bahwa perempuan adalah tonggak peradaban dunia.
Ngga percaya?!
Coba deh tanya Umar bin Abdul Azis, Julius Cesar, atau Thomas Jefferson, mereka lahir dari rahim seorang perempuan atau seorang laki-laki? Perempuan kan?!
Nah, karena itulah sebagai perempuan, muslimah khususnya, diri kita pun harus beradab. Bagaikan seorang putri, segalanya telah diatur dengan seksama oleh sang Raja Penguasa semesta. Salah satunya adalah adab dalam berinteraksi dengan kaum adam. Ngga sembarangan lho ternyata. Ada aturan main yang harus ditaati.

1- Say No to Khalwat!.
Sahabat muslimah, tahu kan khalwat?
“Janganlah seorang laki-laki berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita bukan mahramnya, dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya”. (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Menurut Salim A. Fillah dalam buku ‘Nikmatnya pacaran setelah menikah’, khalwat itu adalah “keberduaan yang kita merasa terganggu jika hadir sosok ketiga, maupun keramaian yang bersepakat untuk berpasangan”.
Diantara resiko khalwat adalah menimbulkan fitnah. Dan yang paling berbahaya adalah bisa membuka pintu zina. Padahal, jelas-jelas Allah sudah berpesan, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (Al Isra: 32).
Nah, adakah orang yang begitu bodohnya secara suka rela memilih jalan yang buruk, yang membawa kepada kebinasaan diri?!
So pasti dong, itu bukan muslimah.

Trus gimana kalau misalnya secara ngga sengaja berkhalwat dengan lawan jenis??
Gampang!
Kalau misalnya dia masih tetap ngga tahu diri, daripada meminta dia yang pergi, lebih baik kita saja yang duluan angkat kaki. Maksudnya pergi mencari bala bantuan. Segera buka GPS, dan temukan teman di lokasi terdekat yang bisa dimintai tolong mengamankan suasana.
Kalau sedang berada didalam ruangan, segera buka jalan angin (pintu, jendela, ventilasi juga kalau perlu) selebar-lebarnya.

Sahabat, tahu ngga bahwa khalwat itu ternyata bisa terjadi dimana-mana. Tidak mesti di tempat yang sepi, gelap, tertutup dan angker, tapi bisa juga terjadi ditengah keramiankota. Karena sepertinya sekarang ini orang sudah kehilangan rasa malu untuk melanggar hukum di depan umum.
Berduaan ditempat yang ramai?
Misalnya dialog interaktif berdua di kantin kampus. Tetap saja, itu khalwat namanya. Toh yang berinteraksi kan ya dua orang keturunan adam dan hawa tadi. Terlebih lagi ternyata interaksi tersebut tidak melibatkan orang disekeliling. Nah lho.
Tidak hanya itu. Seiring perkembangan zaman dan teknologi, tipe khalwat rupanya juga semakin modern dan canggih . Saat ini, khalwat terjadi tidak mesti via face-to-face interaction only. Tapi bisa juga lewat chatting room, SMS, bahkan telpon.
So, kudu ekstra hati-hati ya!

2- Tegas, bukan kaku dan keras
Namun, sahabat muslimah, jangan sampai juga kita memandang lawan jenis dengan beringas, seperti sedang menghadapi musuh bebuyutan. Ala dendam nini pelet gitu.
Apa coba dosa mereka?
Memang sih kita mesti tegas, tapi ngga mesti segitunya kan?!
So, Stay cool aza.
Caranya?

a- Ketika bicara, angkat suara.
Ingat! Jangan sekali-sekali pakai ringtone manja plus centil ya. Atau pakai soft voice yang bikin pendengar jadi gimanaa getoh.
“…Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik”(Al Ahzab:32).
Plis deh. Kalau mau cari perhatian mah ke Allah aja, Sang Maha Keren.
Ngga enak juga donk ketika tiba-tiba nanti dapat gelar akhwat centil. Duh, apa kata nenek moyang kita nanti di akhirat?!
So, mulai sekarang latihlah suaramu untuk agak keras, namun tetap aman terkendali tidak merusak telinga. Begitu juga nada bicaramu.
Kemudian ketika berbicara pula, gunakan direct word or sentence. Misalnya, “akhi, hari ini rapat di perpustakaan, lantai 2, pukul 2pm. Hitungan ke 10 belum muncul, rapat batal” (gaya militer nih). Singkat, cermat, padat, dan hemat.

b- Jaga tawamu.
Sahabat muslimah, ketahuilah bahwa perempuan itu istimewa. Tawa saja bisa mengundang bahaya. Tawa yang renyah, manja dan menggoda (ups!) saking dahsyatnya sampai bisa menimbulkan berbagai virus penyakit hati. Karena itu, janganlah diobral karakter kita yang istimewa ini. Sekali kita mengobral, niscaya bencana dan murka Allah yang akan menghampiri. Na’udzubillahi min dzalik.

c- Fleksibel, tapi tetap memegang prinsip.
Overall, tidak baik juga terlalu kaku. Kalau ditanya misalnya, dijawab super ringkas.
“Boleh”
“Ngga”
“Sudah”
Aduh… mending juga ngobrol sama pussy deh, gitu kata tetangga.
Bukan berarti atas nama menjaga izzah, lantas membuat kita kaku seperti itu ketika berinteraksi. Ingat, Islam itu humanis.
Kalau bercanda gimana?
Bercanda boleh, tapi juga jangan berlebihan. Yang proporsional saja.
Secara umum, humor bisa digunakan untuk meredakan ketegangan, menghapus permusuhan. Namun juga harus dipastikan bahwa dengan bercanda tidak menimbulkan penyakit hati dikedua belah pihak. Bercanda, dengan cara yang cerdas (ahsan, tidak berlebihan, tanpa menjatuhkan martabat diri dan orang lain) justru akan menambah kewibawaan diri kita di mata pemirsa lho.

d- Tegas, ketika keluar jalur.
Tidak menutup kemungkinan bahwa terkadang justru pihak lawan yang mulai nabrak trotoar. Ditanya A jawabnya O. Lagi membahas ini, eh dia ngobrol ngga jelas ngalor ngidul ngulon ngetan. Kalau sudah begini…. Prittt!!
Segera lakukan tindakan penyelamatan. Arahkan kembali ke jalan yang benar. Alihkan pembicaraan ke topik semula atau beranjak ke topik baru yang relevan. Atau, kalau sudah keterlaluan, segera minggat saja dari TKP. Aman deh!

3-Gadhul bashor
“Di dalam surga itu terdapat bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya. Tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka. tidak pula oleh jin” (Ar Rahman:56)
Nah, nah, ingin menjadi seperti bidadari???
Gampang! Salah satu caranya ya itu tadi. Gadhul bashor aja.
Mata yang jelalatan, mudah membuat hati kita terserang penyakit. Terutama ketika dipakai melihat hal-hal yang tidak disukai Allah. Tak dipungkiri, hati yang lunak bisa menjadi keras. Karena mata melihat macam-macam, akhirnya jadi pingin yang macam-macam juga. Oleh sebab itulah Allah menyuruh kita untuk menjaga pandangan agar hati ini juga lebih mudah dijaga.
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya…” (An Nur: 23)

Masalahnya, bagi yang belum mengerti, hal ini terkadang malah menimbulkan salah persepsi. Bisa-bisa kita dianggap tidak menghargai lawan bicara.
Misalnya seorang konselor atau psikiater, ketika sesi konseling (bahasanya gaulnya sih curhat), dia tidak memandang ke arah klien, hanya mendengar sambil menunduk dan manggut-manggut. Ini bisa menimbulkan prasangka buruk pada sang klien, yaitu seolah merasa tidak dihargai. Alhasil, bukannya merasa baik, yang ada justru dia malah tambah depresi, masuk rumah sakit. Repot.com deh.
Lantas, Solusinya??
Arahkan pandangan kearah lawan bicara, tapi target bukan di mata. Apa aja lah. Pura-pura lihat kupingnya, atau kerah bajunya, atau topinya.
Tetep… jangan terlalu sering. Yang sedang-sedang saja. Misalnya pakai skala perbandingan 1:3:5. Maksudnya, setiap 5 menit boleh memandang sekali dan hanya dalam waktu 3 detik.

4-Keep your distance, please.
Jaga jarak disini maksudnya bukan cuma berdiri sejauh 2 meter untuk menghindari hujan lokal saat berdialog interaktif, tapi juga meminimalkan intensitas interaksi. Intinya sih, ‘kalau ngga perlu-perlu amat, ya ngga usah komunikasi’. Mengutip pesan bang Yoli Hemdy, ‘Boleh berinteraksi, tapi jangan coba-coba ekspansi’. Catet!

5-“Karena aku malu”
Sahabat muslimah, pada dasarnya, semua perilaku diatas hanya akan muncul ketika malu masih bersemayam di dalam diri kita. Tentu saja, kepada siapa lagi kalau bukan kepada Sang Maha Menyaksikan segala perbuatan. Dan disebabkan oleh malu pula, Nabi Yusuf akhirnya memberontak ketika beliau dijebak berkhalwat oleh Zulaikha.
Ada baiknya kita mengingat kembali hadits ini, “Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.”(HR. Bukhari). Ini bukanlah sebuah anjuran, melainkan satu ancaman, bernada sinis, beraroma ketidakpeduliaan. Pernyataan yang ditujukan untuk membangunkan kembali kesadaran. Maka, selama hayat masih dikandung badan, marilah kita pelihara rasa malu dalam diri ini.

So, sahabat muslimah. Demi kemaslahatan bersama dunia dan akhirat, your manners, please!

Oleh Ratih Febrian