Belajar nulis

Didihan air memanggil memberi isyarat tuk segera memadamkan api,ya malam ini harus memasak air karena air panas tak ada lagi dan.kuselingi dengan menulis apa yang sedang aku fikirkan saat ini.

Mengingat kembali apa yang telah aku kerjakan selama ini,sudah adakah kontribusiku untuk orang lain dan sudah benarkah niat semua amalan.

Entahlah,karena hanya Allah dzat yang maha mengetahui.

ada rangkaian kisah dan harapan kedepan tuk lebih baik.

Dari “suratcinta” sungguh banyak mengandung makna.ketika membacanya bermacam-macam rasanya, ayat cinta  itu dapat membuat bahagia,membuat haru,membuat cemas,membuat bergantungnya harap dan sungguh membuat takjub.

Tetapkanlah sperti malam ini.

Kedepan tak ada yang tahu dan tak ada yang bisa menjamin bagaimana keadaanku nantinya,seperlima abad telah kulalui,ada harap dan cemas disini.

Lakonku di dunia,apakah telah sesuai..

Saat ini aku diberi sebuah jalan,dan jalan itu adalah sebuah jalan tuk menjadi seorang pengajar dan pendidik,kucubit pipiku dan menepuknya,sudah sadarkah? Sudah siap?

Jika bangku kuliah sebagai sarananya maka sadarilah saat ini kau berada di dalamnya,kedepan kau akan dilepas dan mencari dimana implementasi itu semua.

Disinilah aku membayangkan,akankah aku mendapat tempat yang nantinya menjadi ladang,sebuah ladang pengalaman dan ilmu yang digarap dengan rasa bangga dan menjadi Amanah yang kuharap mengalirkan pundi-pundi deposito dunia dan akhirat.

Namun tempat itu Kurasa masih menjadi rahasia dari sang pemilik Kuasa,Allah Azza wa Jalla.

Dan Kutitip rindu akan jalanku yg diperkuat oleh seorang pemimpin,yang darinyalah lahirnya cinta lalu senatiasa menuntunku menuju Ridho Ilahi.

Sebuah sketsa kecil yang kutitip pada Rabbku.

Sunyinya malam

15_mei_11_2.50 wib

Sweet room in my house.