Oleh : Solikhin Abu Izzuddin
Inspirator dan Penulis Buku Best Seller Happy Ending full Barokah

Guru yang biasa, berbicara.
Guru yang bagus, menerangkan.
Guru yang hebat, mendemonstrasikan.
Guru yang agung, member inspirasi.
(William Arthur Ward, Jurnalis – dikutip dari “Guru Sejati – Prof.DR.Furqon Hidayatullah)

Seorang guru yang berpengaruh dan terus dikenang oleh murid-muridnya pernah bilang, “Saya latihan dan terus menerus latihan, namun yang benar-benar menolong saya adalah qiyamullail, shalat tahajjud.”Subhanallah.

Bagaimana dengan kita?

Saudaraku, hari-hari ini kita patut gelisah. Ya. Gelisah bukan karena harga BBM yang akan segera meroket dengan diikuti harga-harga kebutuhan pokok yang mencekik. Banyak manusia yang resah karena belum punya rumah. Gelisah karena kendaraannya masih kuno dan tidak masuk golongan mewah. Gundah karena merasa tertinggal bak katak dalam tempurung tak bisa mengikuti trend mode yang sumringah. Ya banyak yang gundah, gelisah, dan resah. Benar-benar hilang gairah. Anda merasakannya bukan?

Namun sayang sungguh sayang, sangat sedikit yang merasa gelisah ketika kehilangan ruh dalam ibadah. Jarang yang merasa resah kala tak ada lagi nyala gairah dalam qudwah hasanah. Sedikit yang gundah bila kata-katanya tak lagi didengar dan mengakar. Makin banyak yang hilang arah dan tak mampu lagi mengajak manusia untuk tergugah melangkah ke jalan hidayah. Astaghfirullah, dunia yang bersliweran telah menggoda, materi yang riuh dan ricuh telah mengganggu focus para guru dari surga peran yang mereka emban. Mereka berlari berpacu mengejar dunia, kejar tayang, merebut atribut, dan mengiri sertifikasi.

Bukankah menjadi guru adalah jalan termulia di tengah-tengah manusia? Mengapa makin banyak yang lupa?Mengapa kita juga ikut lupa?

Mengapa banyak guru ikut latah dalam pendidikan berkarakter namun sosoknya dari pribadi berkarakter kuat dengan iman yang menghunjam, ibadah yang menjulang apatah lagi akhlak mulia yang menawan? Mengapa kata-katamu tak mereka dengar? Mengapa pembelajaranmu malah membuat gusar? Mengapa kehadiranmu tak dirindu benar?

Mengapa?

Karena melemahnya ibadah menggerus keyakinan sehingga meluruhkan keteladanan. Yang tersisa hanyalah berjalan gontai tanpa penghayatan. Bekerja santai tanpa keserius-sungguhan. Bergerak lunglai tanpa harapan yang menggairahkan. Monoton. Kaku. Stagnan. Beku. Kurang vitamin. Miskin harapan. Kasihan. Sungguh-sungguh kasihan. Kalau begini, dunia tak didapat, akhirat pun tak punya harap.

Guruku, bangkitlah. Bila setiap tempat adalah sekolah maka setiap orang adalah guru. Kini tataplah wajah-wajah lugu dan lucu para muridmu yang begitu berharap sentuhan hatimu, merekahnya senyummu, hangatnya semangatmu, kokohnya janji komitmenmu, kesungguhan fokusmu dan nikmatnya keindahan berbagi ilmu bersamamu. Bukan sekadar ilmu tentu, namun inspirasi yang menyalakan jiwa dan membakar adrenalin muridmu untuk bergerak maju. “Nak, bermimpilah, karena bermimpi itu tidak perlu membayar.” Begitu pesan heroik seorang ibu –benar-benar guru sejati– di pelosok Wonogiri yang menyemangati sang puteri agar melintasi negeri menembus belantara ilmu hingga ke tanah Jerman, dengan prestasi demi prestasi.

Yang terpenting bukan seberapa besar mimpi kalian, namun seberapa besar kalian untuk mimpi itu.”Begitu pesan menantang dari Pak Balia, guru yang mengantarkan muridnya melintasi dunia dengan Laskar Pelanginya. Atau Pak Suharto aseli Klaten –Kepala Sekolah teladan yang selalu datang lebih awal dari para guru lainnya, seorang guru di pelosok Krui Lampung Barat yang sering dipindah-pindah karena prestasinya– pernah berpesan, “Urup kanggo urip.” Milikilah nyala untuk hidup.

Saudaraku, termasuk kecerdasan seorang hamba, kata salafush shalih, adalah jika dia menyadari kondisi imannya dan apa-apa yang kurang darinya. Semoga kita selalu berbenah kala ada masalah, selalu bersiap dengan bekal ruhiyah dalam melangkah, dan muhasabah bila telah berkiprah.

Saudaraku, bagaimana kita bisa menyalakan nyali bila diri kita tak pernah bernyali untuk menyalakan motivasi dalam diri? Bagaimana kita bergerak menginspirasi bila hari-hari kita dan hati-hati kita kosong dari kekuatan ruhani?

Guruku… muridmu sudah begitu rindu menunggu berbagai kisah indah yang menggugah yang membakar kesadaran urat terdalam dalam jiwa mereka, lalu mereka ternganga dan tersulut potensinya, “Aku yakin punya potensi, maka aku harus berani bermimpi dan berani beraksi. Wahai dunia, tunggu aku, akan kuguncang dunia dengan prestasi emasku.”

Begitulah yang akan bergolak dalam dada muridmu saat engkau melibatkan seluruh hati, pikiran, fisik, emosi dan kejiawaanmu dalam mendidikkan kata demi kata.

Wahai guruku…
Ketika jiwamu lelah dihantam oleh masalah demi masalah maka beristighfarlah… Astaghfirullah.
Ketika jiwamu gerah gelisah tak tenang dan tak nyaman merasakan kehidupan maka bertasbihlah …Subhaanallah.
Ketika engkau tiba-tiba diserang kembali oleh masalah maka bertahmidlah… Alhamdulillah masalah membuatku sadar untuk berbenah.
Ketika orientasi jalanmu berubah tak karuan maka bertahlillah… Laa ilaaha illallah
Ketika pikiranmu gundah memikirkan dunia yang begitu besar, agungkanlah kebesaran Allah maka bertakbirlah… Allahu Akbar.
Ketika seluruh kekuatan sudah kau kerahkan namun kemampuanmu benar-benar sudah mencapai batasnya maka bersandarlah dan ucapkanlah … Laa haula walaa quwwata illaa billah…
Bermunajatlah kepada Allah agar lebih dekat dalam pelukan cinta-Nya, agar kita bisa tunduk patuh tawadhu’ di saat angkuh, bisa tegak dan teguh di saat runtuh, bisa sabar dan tegar di saat terlempar dan tetap bersandar kepada yang Maha Besar saat terdampar.
Subhanallahu wal Hamdulillah wa Laa ilaaha illallaah wallahu Akbar

 

http://blog.proumedia.co.id/guruku-surgakan-peranmu/

 

*malu diri ini rasanya setelah membaca tausiah ini

ayo lecut dirimu

About these ads